TOMKET 108.CAI.2012.CA

TOMKET 108.CAI.2012.CA

Kamis, 17 Juli 2014

Di Gua Anjing

Posted by Unknown On 06.00 No comments


DOMKUMENTASI DI GUA ANJING
1.     
( Take nothing but picture.) Tidak mengambil sesuatu kecuali mengambil potret
2.      
( Leave nothing but footprint )Tidak meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki
3.      ( Kill nothing but time ) Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu .



Dokumantasi


Pembacaan Kode Etik





naik mengunakan tali




Foto Bersama

Ornamen Gua

Jalur Kereta Api







Gua Saripa

Posted by Unknown On 05.59 No comments

FUNCAVING”
GUA SARIPA DAN GUA ANJING, 10-11 MARET 2013
DUSUN TA’DEANG DESA SEMANGGI KAB. MAROS

Secara garis besar gua terbagi dua jenis yakni gua horisontal dan gua vertical.
  1. Gua horisontal adalah, gua yang berbentuk lorong yang mendatar dan memanjang.
  2. Gua vertikal adal gua yang berbentuk lubang tegak lurus.
Gua saripah adalah jenis gua horizontal panjang total gua ± 1200 meter, gua ini terletak di Dusun Ta’deang, Desa Semanggi Kec. Simbang Kab. Maros



 Peta Gua Saripa     

Tanggal 10 Maret 2013 pukul 06.30 Wita Perjalan saya mulai dari rumah degan mengunakan sepada motor, dalam perjalanan kendaraan masih sepih,  maklum masih subuh. Di maros tepatnya di pasar bantanggase teman saya fiman telah menunggu yang sehari sebelumnya sudah mengkonfirmasih bahwa dia ingin ikut degan saya 1 jam perjalan kami tiba di dusun Ta’deang  langsung saja kami memarkir motor dan meminta izin ke ‘mama’ orang tua yang tinggal di sekitar daerah itu,
Makan bersama
Setelah meminta izin Jam 08.00 saya dan firman mulai memasang tenda yang saya sudah persiapkn dari rumah, sambil menunggu teman yang lain dating kami punberbincang sambil mengingat kembali masa masa sekolah dulu. Jam 09.40 teman-teman kami pun tiba dilokasi firman menjemput dan memberi tahu bahwa lokasi  Camp dibawah pohon bambu.
Pengecekan Alat
Setelah beristirahat dan makan siang kamimpun mempersiapkan alat Caving karna gua saripa termasuk gua horizontal jd kami hanya membawa alat seperti helem, lampu kepala, lampu cadangan, dan bateraicoverall, sepatu boot, sarung tangan, makanan dan minum dalam tas dan baju ganti. Setelah itu kami memulai breafing dan Membagi ilmu yang saya dapat dari Cagar Alam Indonesia Cinta Alam (CAICA) bawah kita perlu menyadari bahwa gua merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar. Karenanya penelusur gua harus :
1.     
( Take nothing but picture.) Tidak mengambil sesuatu kecuali mengambil potret
2.      
( Leave nothing but footprint )Tidak meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki
3.      ( Kill nothing but time ) Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu .
Para penelusur gua tidak memandang rendah keterampilan dan kesanggupan sesama penelusur. Sebaliknya, seseorang penelusur gua dianggap melanggar etika, bila memaksakan dirinya untuk melakukan tindakan - tindakan diluar batas kemampuan fisik dan tekniknya, serta kesiapan mentalnya. Respek terhadap sesama penelusur gua, ditunjukkan setiap penelusur dengan cara :
·         Tidak menggunakan bahan / peralatan, yang ditinggalkan rombongan lain tanpa seizing mereka.
·         Tidak membahayakan penelusur lainnya, seperti melempar kedalam gua, bila ada orang didalam gua, memutuskan / menyuruh memutuskan tali yang sedang digunakan rombongan lain.
·         Tidak menghasut penduduk sekitar gua untuk melarang / menghalang - halangi rombongan lain untuk memasuki gua, karena tidak satupun gua di Indonesia milik perorangan, kecuali bila gua itu dibeli yang bersangkutan.
·         Jaukan pekerjaan yang sama dan belum mempublikasikannya dalam media massa dengan melakukan penelitian yang sama, apabila ada rombongan lain yang diketahui sedang melakukan / dalam media ilmiah.
Jam 14.30, kami memulai perjalan menuju mulut goa saripa seikitar 15 menit dimulut goa terdapt pohon yang rindang dan stalatmit yang sudag tidak aktif lagi kami sampai dan membuat lingkaran berdoa sejenak.
Foto Bersama Dimulut Goa Saripa


Awal penelusuran mereka lebih banyak diam. Ini biasa bagi caver pemula, karena menghadapi situasi yang sangat berbeda dengan keseharian. Rasa takut muncul yang sebenarnya berasal dari imajinasinya sendiri. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya musahi terjadi di dalam gua.

Suasana Aula Pertama
 Jalur Lobang Tikus
Baru setelah memasuki tempat agak lebih dalam yaitu tempat yang disebut dengan Aula pertama. Antusias mereka pun bertambah dengan terus bertanya sepanjang jalan. Sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah mereka jumpai, 7 menit brjalan akirnya kami sampai diaula ke dua aula ini lebih luas dari yang pertama dan terdapat banyak sersimpangan, tapi kami memilih jalur lobang tikus, tak lama kemudian meraka disuguhkan pemandangan.


  
Stalagtit
Stalagtit. Ornamen yang satu ini terbentuk karena  rekahan kecil yang memungkinkan terjadinya tetsan kecil yang mengandung kalsium karbonat. Pada saat itulah terjadi “persipitasi”, sehingga terlepaslah karbon dioksida dan terbentuk endapan bening yang disebut mineral kalsit. Stalagtit tumbuh dari atap gua menuju ke bawah.
Setelah kami memasuki lobang menyerupai  jalur  tikus suhu dan kelembapan mulai berubah, tampak ornamen
Cartain it
Curtain Endapan yang berbentuk seperti lembaran yang terlipat, menggantung di langit-langit gua atau di dinding gua. Ornamen ini sagatlah lembap dan terbantuk sekitar juta tahun.

Tampak ornamen Straw  dari dekat 
Straw Bentuknya seperti stalagtit tetapi berdiameter kecil, sebesar tetesan air, panjangnya 1-15 Cm
Mengamati ornamen straw
Jengkrik Aneh
Disamping dari keindahan ornamen gua yang di jumpai di sepanjang penelusuran. Banyak hal yang menarik untuk bisa di pelajari. Hal yang menarik itu biasanya berkenaan hewan yang hidup di dalam gua. Tempat yang hampir tidak ada cahaya matahari masuk membuat hewan-hewan yang hidup mengalami adaptasi. Dapat dijumpai jenis serangga/ jangkrik yang berantena panjang serta jenis ikan dan udang yang tidak berwarna/transparan. Penampakan fisik seperti ini yang pada umumnya menjadi ciri-ciri dari hewan yang hidup di gua. Indra penglihatan menjadi tidak berfungsi.
Pool 
Rimstone Pool Berbentuk seperti bendungan yang berbentuk ketika terjadi pengendapan air, CO2-nya menghilang dan menyisakan kalsit yang bersusun-susun.
Pukul 17.00 wita Tak tersa kami sudah berda didalam gua selama 2 jam, saya memutuskan untuk kembali untuk kembali ke camp karena saya yakin dimulut gua sudah mulai gelap, akan bahaya jika barang ditenda di tingal terlalu lama.

Dokumentasi







Bulu Nepo Pare-Pere

Posted by Unknown On 05.53 2 comments

MISTISIME NEPO
BULU NEPO PARE-PERE
Bulu Nepo adalah sebuah gunung yang terletak di segi tiga emas Parepare, Sidrap dan Barru. Merupakan gunung tertinggi di wilayah tersebut. dari infomasih yang saya temukan tingginya cuma berkisar 1.000 Mdpl.


Tuk mencapai puncak Nepo ada beberapa titik akses, di sini saya memilih Bacukiki, skitar 7 KM dari jantung kota Pare-Pare kampong halaman. Menurut info yg saya dapat dari beberapa pendaki, perjalanan ditempuh skitar 6 jam di sepanjang perjalanan kita disuguhkan pemandangan2 alam yg luar biasa indah. Banyak menyimpan kisah2 tentang sejarah2 perjuangan. Melewati sebuah gunung yang dianggap bertuah oleh penganut animisme tertentu. .
Konon Gunung ini berpasangan dengan Gunung Bambapuang yg ada di Enrekang. Melihat dari struktur gunung memang agak mirip namun puncak Nepo adalah padang rumput, smentara Bambapuang batu cadas, di jaman Belanda ada sebuah tugu di puncak Nepo namun sayang itu sudah di bongkar orang2 yang beranggapan tugu berisi emas.
 Kembali keperjalanan puncak Nepo. Diperjalanan kita terkadang berpapasan dengan para pembawa air aren olahan warga setempat. perjalanan di bagi dengan 4 Pos, ada yg mengatakan 5 dari perjalananku kemarin tanggal 15 Juli 2012 saya tidak temukan  tanda Pos-pos. 

Di pelataran Bulu Nepo ada sebuah aliran air yang bernama wae sibokorengge' (air yang mengalir bertolak arah). Di kaki gunung ada pula air terjun tapi tidak terlalu besar, sebagian orang menganggap airnya sakral dan di juluki wae baranie (air pemberani). tidak jauh dari pelataran Nepo ada sebuah kubangan yang cukup dalam sampai sekarang belum ada yang tau kedalamannya, dan terdapat sebuah meriam pada masa penjajahan dan tempat ibadah penganut ajaran Animisme  ini cuma sedikit cerita dari warga setempat.






Di puncak Nepo kita bisa melihat kota Parepare,Sidrap dan Pinrang serta Sengkang, bentangan alam yang luar biasa akan dapat di nikmati serta Danau tempe yang terlihat utuh  dari kejauhan








Ekspedisi  Putera Caica
Gunung Bawakaraeng, Gowa, Sulawesi Selatan



SEKILAS TENTANG GUNUNG BAWAKARAENG
Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino (Kota Bunga) tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai.



Gunung Bawakaraeng terletak di dalam taman nasional Lompo Batang yang berada di dalam wilayah kabupaten Gowa. Di dalam peta gunung ini tidak tercantum, karena mungkin Bawakaraeng hanya dianggap salah satu puncak dari pegunungan yang berada di dalam taman nasional Lompo Batang. Ada dua jalur yang biasa digunakan untuk mencapai puncak Bawakaraeng. Yaitu melalui desa Lembana dan Kasoso. Desa Lembana berada dalam kecamatan Tinggimoncong dan berjarak kurang lebih 7 km dari tempat wisata Malino. Sedangkan desa Kasoso berada dalam wilayah kecamatan Manipi, kabupaten Sinjai Barat. Ada sebuah lembah bernama lembah Cina yang adkan dilewati jika melalui Kasoso.
Kamis, 21 Juni 2012. Di waktu senja di Rumah Kos kawan kami, ternyata sudah banyak kawan-kawan yang berkumpul disana dan Nampak sedang melakukan persiapan-persiapan menjelang keberangkatan. Ada yang melakukan packing, mendata equipment yg dibawa serta, mendata Ransum, membagi bobot beban ke dalam tas Carrier peserta, dan persiapan-persiapan lainnya. Nampaknya masih lama akan berangkat, sambil menikmati sebotol coca-cola dingin bersama Abil kami berbincang-bincang.
Dan akhirnya malam hari pun tiba diawali dengan Adzan Magrib Yang berkumandang. Packing pun telah selesai dilaksanakan, persiapan pun telah mencapai taraf 90%. Ada beberapa teman yang keluar untuk mencari sisa perlengkapan yang belum rampung untuk segera dilengkapi. Nampak pula beberapa teman menuju ke DIMITRI untuk menyewa Equipment Yang akan dibawa dalam perjalanan nanti, dan beberapa teman yang masih bersantai di Rumah masing-masing.
Pada Kamis, 21 Juni 2012. Pukul 21.09 WITA, Rombongan putera Caica berangkat meninggalkan Kota makassar menuju Desa Lembanna Kab.Gowa. Kami berangkat dengan menggunakan sepeda motor menuju Lembanna.
Tanggal 22 Juni 2012, pukul 00.58 WITA Kami semua Tiba di Desa Lembanna Kab.Gowa dan menggunakan Rumah Tata’ Badulla sebagai Home Base perjalanan kali ini.
Seusai melaksanakan Shalat Jum’at secara berjamaah di mesjid agung Desa Lembanna,  kami pun bergegas melakukan persiapan pemberangkatan. Pendakian ke puncak Bawakareng itu kami mulai pada Jum’at , 22 Juni 2012, (seusai shalat Jum’at).  Kami pun berjalan di jalan yang beraspal, terlihat pemandangan rumah panggung berjejer. Hasil pertanian, disimpan di halaman. Rumah-rumah itu dibatasi oleh kebun. Kabupaten Gowa, kecamatan Tinggi moncong memang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil Sayur-sayuran di Sulawesi Selatan.
Perjalanan menuju puncak bawakaraeng dalam rangka kegiatan Pendakian perdana Gunung Bawakaraeng merupakan perjalanan yang berat dan sangat meletihkan. Baru saja tiba di Pos I sudah menguras energi yang sangat banyak. Medan di perjalanan menuju Pos I sangatlah menantang, perjalanan yang sedikit mendaki dengan bebatuan dan tanah merah dengan sedikit rintangan dari semak belukar di tiap sisi dan berjalan memotong aliran sungai kecil. Tiba di pos I, beristirahat sejenak.



Setelah beristirahat selama 30 menit, kami pun melanjutkan perjalanan, medan perjalanan yang panjang dan berkelok menyusuri medan semak belukar yang tinggi yang terkadang menganggu pandangan dan menggores badan kami. Lumayan jauh juga akhirnya kami tiba di Pos II yang dtandai dengan sebuah Pohon yang rindang, sekedar beristirahat sejenak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan semak belukar masih di sisi kiri dan kanan kami, beberapa batang pohon yang memaksa kami untuk melompati,merunduk, bahkan tiarap di bawah untuk melewatinya. (Katanya inilah konsep hidup yang sebenarnya). Akhirnya kami tiba di Pos III, beberapa meter sebelumnya kami sempat singgah di sungai sebelum Pos III untuk sekedar beristirahat dan mengambil air. Pada kesempatan ini, kami menyempatkan diri untuk mempersilahkan saudara Abil untuk mengambil alih memimpin perjalan ini.
15 menit kemudian kami pun melanjutkan perjalanan. Menuju pos IV medan perjalanan yang kami tempuh adalah kawasan hutan basah. Pos IV bawakaraeng ditandai dengan sebuah batang pohon besar melintang yang terbelah di tengahnya. Matahari pun tidak lagi menyembunyikan sinarnya, bahkan dengan tidak sungkan-sungkan menyorotkan cahayanya yang terik kepada kami. Dan akhirnya dibawah sorot terik matahari, kami pun tiba di Pos V pada pukul 16.00 Wita. Dan kami pun berencana untuk menginap di tempat ini. Dan rencana kami lanjutkan perjalan besok pagi. Kami pun membongkar carrier untuk mengambil equipment-equipment, mendirikan tenda, dan mengambil air untuk keperlua selama camp di pos ini.


Menjelang magrib, makan malam pun telah siap dengan Abil dan saya sendiri yang bertindak sebagai Koki. Kami pun santap malam dengan dinginnya malam sabagai pelengkap hidangan ini. Beruntung kami menemukan tanah yang sedikit lapang untuk mendirikan 2 tenda dengan posisi yang saling berdekatan. Cuaca yang sangat dingin yang mencapai hingga ±10°c pada malam harinya dan kondisi badan yang kelelahan memaksa saya untuk segera menutup mata.








Pada Pagi Hari, Sabtu, 23 Juni 2012. Pukul 10.00 Wita, setelah selesai menyantap sarapan pagi, kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Dari Pos V menuju Pos VI kami melintasi bukit-bukit kecil yang di penuhi dengan batangan-batangan pohon yang melintangi jalanan diselingi dengan ladang edelweiss yang tumbuh dengan liar disana. Panorama yang indah untuk berpose memaksa kami untuk kembali mengambil gaya.
          Di Pos VI kami beristirahat sejenak, dan kami bertemu dengan kelompok pencinta alam lain, kami pun berbincang-bincang dengan akrabnya. ±30 Menit kami kembali meneruskan perjalanan menuju pos VII. Medan ini ditandai dengan pendakian-pendakian relative pendek. Pendakian yang menguras energi ditambah dengan sorot matahari yang terik ditambah lagi dengan gangguan dari serangga-serangga kecil yang mengikuti dan terus terang sangat mengganggu kami.
Pos VII ditandai dengan beberapa bongkahan batu besar. Sebuah bukit yang indah dengan beberapa bongkahan batu besar memaksa kami untuk kembali mengambil gaya berpose ria ala foto profil Facebook.. Pada pos ini kami mendapati sebuah tong drum sampah dan menemukan beberapa receh uang koin dan beberapa batang rokok yang terselip dibawah batu; saya yakin, orang-orang tersebut dengan sengaja untuk menyimpannya disana entah untuk maksud apa.   



Dari Pos VII kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit pos VII lalu berjalan memasuki jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan pendek yang indah, kemudian memasuki hutan hujan yang lembab khas Bawakaraeng. Masih ditemani oleh serangga-serangga kecil kami pun harus menapaki pendakian khas bawakaraeng. Jalur yang lembab dan kabut tipis pun turun memaksa kami untuk mengancing dengan rapat Raincoat kami. Jalur pos inilah yang merupakan ciri khas pendakian Bawakaraeng, jalur yang menguras tenaga dan mencucurkan keringat. Pendakian yang panjang dan sangat membosankan, kemudian penurunan yang terjal untuk kembali mendaki. Terkadang melewati semak berduri dan bebatuan yang berlumut memaksa kami untuk memutar otak meletakkan kaki berpijak dengan hati-hati. Sungguh kombinasi antara tenaga dan akal. Pada salah satu penurunan, pada saat daya konsentrasi yang mulai menurun, ditambah dengan sesaknya dada akibat kabut tipis dan udara yang lembab, ditambah lagi dengan gangguan-gangguan dari serangga-serangga kecil; akhirnya saya yang salah menempatkan pijakan terjatuh dengan posisi tangan kanan yang hampir patah akibat mengapit dahan sementara tulang kering kaki kiri yang membentur sudut batu. SAKIT !!!. Namun, kondisi yang sangat kelelahan dan udara yang dingin seolah memberikan sugesti untuk tidak memperhatikan luka tersebut. Dalam hati saya bernazar untuk menggunting celana saya apabila saya dapat berhasil tiba di Camp.Pos tanpa terhalangi oleh rasa sakit ini.


Pukul 14.00 Wita, kami tiba di Pos VIII. Taufik sebagai Korlap dalam perjalanan ini, Setelah melihat kondisi anggota rombongan yang kelelahan, dengan pertimbangan dan keputusan yang tepat menghasilkan kebijakan untuk beristirahat dan bersantai-santai menikmati minuman hangat.±30 menit berlalu, rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Setelah melalui Pos IX, rombongan tiba di Pos X pada pukul 16.50 Wita, sebagian anggota kami mempersiapkan barang-barang, karna kami berencana untuk bermalam di Pos X.  Dan Dari sini Puncak Gunung Bawakaraeng sudah terlihat dengan jelas. Sebagian Rombongan akhirnya tiba puncak dengan kondisi yang kelelahan pada pukul 17.00 Wita, sambil menunggu kawan-kawan kami membuat tenda peristirahatan. Kami pun menyempatkan diri memandang pesona alam puncak G. Bawakaraeng dari titik ketinggian. letih dan lelah terbayar lunas oleh pesona  keindahahan puncak Gunung Bawakaraeng. Apalagi dengan cuaca yang sangat cerah tanpa kabut sama sekali. Momen ini tidak disia-siakan, kami pun mengambil gaya untuk berfoto bersama tugu trangulasi Bawakaraeng. Tidak cukup dengan hanya mengambil foto, kami pun mengabadikan momen ini dengan mengambil beberapa video menggunakan video record.  



Hari sudah mulai gelap, hawa dinginpun sdh mulai mencekam, kami pun memutuskan untuk kembali ke camp tepat pada pukul 18.15 Wita. Sesampai di tenda Kami pun menyantap makan malam bersama hasil racikan koki ala resto buatan Gole, Hamka dan Cacing. setelah santap malam dan beristirahat. Canda, tawapun bersorak dalam sebuah tenda kecil.
 






Ekspedisi Baju Biru
Puncak Rante Mario Pegunungan Latimojong


SEKILAS TENTANG PEGUNUNGAN LATIMOJONG
Panorama alam yang indah dan disebut sebagai atap pulau Sulawesi menjadikan Gunung Latimojong banyak dilirik para pendaki di Indonesia.

Latimojong adalah gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yang memiliki tujuh puncak, dengan puncak tertinggi Rante Mario dan ketinggian 3.680 meter di atas permukaan laut. Membentang dari selatan ke utara, Latimojong sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Enrekang, sebelah utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan dengan Kabupaten Sidrap, dan sebelah timur dengan Luwu sampai pinggir pantai Teluk Bone. Adapun puncak-puncak Pegunungan Latimojong yang membujur dari utara ke selatan yakni:
  1. Buntu Sinaji (2437)
  2. Buntu Lapande (2487)
  3. Buntu Sikolong (2754)
  4. Buntu Rantekambola (3083)
  5. Buntu Rantemario (3478)
  6. Buntu Nenemori (3397)
  7. Buntu Latimojong (3305)
  8. Buntu PasaBombo (2965)
  9. Buntu Pallu (3086)
10.     Buntu Lariu (2700)
Di pagi hari  itu kami memulai perjalan dari kesekretariat Cagar Alam Indonesia Cinta Alam (CAICA) pada Kamis, Sabtu 9 februari 2014. Pada pukul 14.00 WITA Kami telah meninggalkan Kota Makassar degan menggunakan sepeda motor.
Setelah Melalui Beberapa jam perjalan Makassar, Enrekang. Kami pun tiba pada pukul 04.30 WITA di Kecamatan Baraka, Enrekang. Kami berempat duduk terdiam di sebuah pos ronda letaknya di gerbang pasar Baraka. Sesuai dengan jadwal yang kita tentukan, kita pun menginformasikan saudara kami (Habib) yang tinggal di desa Kalimbua, kecamatan Baraka. bahwa kami telah tiba di pasar yang letaknya tidak jauh dari dari kantor kecamatan Baraka, Enrekang.
Setelah  menempuh perjalan selama 14 jam degan mengunakan sepeda motor kami tiba kediaman saudara  Habib. Yang letaknya di Desa Kalimbuah.  Di sana saudara Cakra dan Hamka telah menunggu yang terlebih dahulu berangkat mengunakan mobil
Sesampai di kediaman Saudara kami, kami pun di sambut dengan baik oleh pemuda – pemuda kalimbuah yang sedang bermain kartu. Setelah kami  melakukan perbincangan dengan pihak keluarga dan masyarakat setempat. Kami pun di izinkan nginap semalam di desa kalimbuah. kami sangat berterima kasih kepada pihak keluarga dan masya  rakat kalimbua yang baik dan membantu kami dari hal Materi dan Non materi.
Semalam pun Berlalu, pada pagi hari kami melakukan sarapan bersama keluarga Habib. Setelah itu kamipun bergegas untuk melakukan perjalan pendakian.
 Pendakian ke puncak Latimojong itu kami mulai pada Minggu 10 Februari 2014, pada pukul 10.00 WITA.  Kami pun siap melaukan perjalan mengunakan sepeda motor, terlihat pemandangan rumah panggung berjejer. Hasil pertanian, seperti kopi, dijemur di halaman. Rumah-rumah itu dibatasi oleh kebun salak. Kabupaten Enrekang memang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil salak di Sulawesi Selatan.
Dari kejauhan terlihat bukit-bukit batu terjal, yang berada di antara bukit-bukit hijau. Jalan semakin menanjak. Setelah sekitar dua jam perjalanan, kamipun meninggalkan jalan beraspal dan mulailah berjalan di jalan berbatu, kemudian jalan tanah. Adrenalin kami mulai terpacu saat melihat jalan licin dan becek, sedangkan di sisi kanan jurang menganga dalam dan sisi kiri tebing tinggi.
Beberapa desa pun kami lewati dengan lelahnya. Enrekang Baraka, Pasui, Gura, Buntu Dea. Dan Kami pun tiba di desa Rantelemo pukul 01.50 WITA. Kamipun mengambil inisiatif untuk melakukan istirahat sejenak guna mengembalikan ferforma motor yang lelah melibas tanjakan ditemani dengan sebatang Surya kami bersenda gurau 15 menit berlalu kami mulai memacu kendaran melanjukan perjalanan dusun terakhir, dusun karangan, desa Latimojong.

Pada pukul 13.30 WITA, kami pun tiba di dusun karangan, desa latimojong.
Walau dusun ini terpencil, penduduk dusun itu dapat menikmati penerangan listrik. Namun, bukan dari PLN. Secara swadaya masyarakat memanfaatkan aliran sungai dan memasang kincir air yang menghasilkan daya, kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga. “Jadi di sini penduduk tidak perlu membayar listrik karena ini diusahakan oleh warga sendiri. Lucunya, kadang nyala lampu yang sangat terang tiba-tiba redup, bergantung pada deras arus yang memutar kincir,” ujar Tahir, Kepala Dusun Karangan.
Setelah berbincang dan meberi pakaian layak pakai yang kami bawa dari kesektariatan, kami memulai pendakian . Dengan memanggul ransel masing-masing, kami berjalan melalui jalan setapak meninggalkan Dusun Karangan menuju puncak Latimojong.
          Belum jauh dari dusun, terhampar pemandangan pohon-pohon kopi di sisi kiri dan kanan jalan setapak, dengan buah merah mencolok. Tampak pula karung yang berisi biji-biji kopi yang baru dipanen. Medan makin menanjak. Meski belum berjalan terlalu jauh, napas sudah tidak beraturan.Sebelum tiba di Pos I. Perjalanan kami harus menyeberangi dua sungai dengan meniti beberapa batang pohon yang melintang di atas sungai. Kemudian kami melalui beberapa lahan yang baru dibuka oleh warga untuk perkebunan kopi. Dari sana, jauh di bawah, tampak indahnya pemandangan yang hijau, dan dari kejauhan tampak permukiman warga setempat. selanjutnya adalah wilayah hutan lebat.                                                         
Kondisi jalan pun sudah mulai tidak bersahabat. Bahkan terkadang kami harus meniti pinggiran jurang dengan berpegangan pada akar-akar pohon. Rasa takut kadang tiba-tiba datang jika melihat ke bawah jurang. Saya harus memakai kaus tangan agar tangan tidak terluka saat berpegangan pada akar-akar pohon.



Menuju Pos II jalan tidak selalu mendaki. Semakin dekat menuju Pos II, jalan menurun dan licin karena lembap. Pos II berada di pinggir sungai. Tidak begitu luas, hanya berupa bongkahan batu besar yang agak lapang dan gua batu terbuka. Namun, tempat ini menjadi salah satu pilihan bagi pendaki untuk beristirahat, bahkan menginap karena dekat dengan sumber air.
Medan berikutnya menuju Pos III. Sangat sulit walau jarak tempuhnya pendek. Tebing dengan rata-rata kemiringan 70-85 derajat, belum lagi kondisi tanah yang licin, mengharuskan kami untuk memanjatnya. Namun, di sinilah etape perjalanan paling seru meski sangat berbahaya. “Awas, batu. Ada batu,” terdengar teriakan dari atas, mengingatkan kami bahwa ada batu jatuh. Kami yang berada di bawah pun ekstrahati-hati agar tidak terkena batu. “Meski berbahaya, saya sangat suka karena menantang,” kata Aldy alias Kondo dari Caica”.
Perjalanan menuju Pos IV setelah beristirahat sejenak jalan menuju Pos IV lebih bersahabat meski mendaki. Akar-akar pohon sebagai tumpuan dan pegangan tersusun lebih rapi. Begitu pula dengan batang pohon yang menjadi tumpuan alternatif. Kondisi hutan pun makin lebat dan lembap. Kabut sempat turun beberapa saat.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 13.09 WITA ketika kami tiba di Pos IV yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Suasana makin mencekam saat kabut turun yang makin membatasi jarak pandang. Terlihta sesajian dibawah pohon entah siapa yang membawa dipikiran saya ,tapi berhubung kami haus dan lelah tak salah rasanya kalo kami mencicipinya sedikit. Apalagi ketika hujan mengikui langkah kami semakin dalam, selain kabut dan hutan lebat, jarak pandang. Saya sempat drop ketika rasa lelah, lapar, dan dingin menusuk. Dengan bantuan sekaleng susu dan istirahat sejenak, akhirnya saya dapat melanjutkan pendakian meski dengan ritme lambat dan lebih sering berhenti.
Akhirnya sampailah kami di Pos V sekitar pukul 14.50 Wita, tempat kami beristirahat dan makan ditengah sergapan rasa dingin,sambil menunggu hujan radah. Di sekitar tempat itu ada sebuah sungai, yang untuk mencapainya harus melewati medan yang terjal dan licin.
Perjalanan menuju puncak Rante Mario dilanjutkan. Pos demi pos selanjutnya pun kami lalui. Untuk sampai ke Pos VI pun terasa lebih singkat walau medan lumayan licin karena banyak batu besar.
Kondisi hutan di ketinggian sekitar 3.000 mdpl terasa lembap. Batang-batang pohon di sekeliling kami ditutupi lumut. Sementara itu, di Pos VII terdapat bukit-bukit batu dan pohon-pohon kerdil, tempat kami beristirahat sebelum melanjurkan perjalanan mencapai Puncak Rante Mario. . Akhirnya sampailah kami dilokasi camp dekat pemancar, sekitar pukul 18.30 Wita, tempat kami menginap malam itu hujan tak urung redah mengharuskan kami memasak dalam tenda dan berdoa esok pagi akan cerah.
Perjuangan mencapai puncak Rante Mario akhirnya tercapai setelah mendaki tebing, melalui bukit-bukit batu dan hutan berpohon kerdil. Kami pun langsung menuju titik tranggulasi di ketinggian 3.680 Mdpl. Segala kelelahan terbayar seketika saat melihat pemandangan yang indah, kala matahari beranjak ke arah barat, dengan berkas warna kuning keemasan menerpa awan putih.                                                         
Pada Selasa, 11 Februari 2014. Pukul 11.00 Wita. Kami tiba di puncak tertinggi (Rante Mario). pegunungan Latimojong. Kab. Enrekang














Site search

    Blogger news

    Blogroll

    About